Berjalan menuju kedewasaan

Dewasa. Seberapa dewasa sih kita? tak ada yang pernah tahu, karena memang abstrak dan tak bisa diukur secara pasti. Mungkin cuma beberapa hal saja yang membedakan seperti si dewasa bertindak dengan pintar walau tak selalu, dan tak dewasa bertindak dengan tak pintar.

Iya hanya sebatas itu saja. Jika ingin mengukur tingkat kedewasaan satu orang dengan orang lain memang akan sulit, dan memang tak perlu.

Menurutku yang seumur 21 ini walaupun banyak yang bilang dewasa itu bukan tentang umur, memang benarnya karena dewasa itu tentang cara berfikir dan bertindak bukan tentang kuantitas umur. Namun umur tentulah memegang peranan yang besar dalam hal ini. Misalkan saja seorang anak seumuran SD dihadapkan dengan uang satu juta dengan orang seumuran bapak kita, beda kan? kita saja menyebutnya sudah beda, satu anak, satu orang.

Dan sepertinya kedewasaan itu bergerak lurus seiring dengan pengalaman. Nah ini baru kuantitas umur tak berpaut. Tapi kuantitas/bobot umur itulah yang penting. Contohnya temen2 saya nih selepas dari SMA. Ada yang kuliah, kerja, menikah, nganggur, dan kegiatan lainnya. Dan kita berawal dari anak lugu yang sama sewaktu SMA. Selepas 3 tahun ini berbeda sekali perubahannya. Tentu berpengaruh dengan kedewasaannya. Seorang traveller dengan seorang web surfer pun akan sangat berbeda kedewasaannya, padahal hal yang dipelajari sama. Tentang wisata.

Dewasa itu bisa pilihan, bisa keharusan.

Tapi yang pasti dewasa itu sebuah perjalanan. Bukan kerja instan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s