Baliklah ke suraumu nak

“Baliklah kesuraumu nak, bersama menikmati kalam Illahi penyejuk hati.”

Terkadang apa yang kau agung-agungkan, apa yang kau elu-elukan, apa yang kau jagokan suatu saat bisa melawan balik dan menjadi musuh terbesarmu. Kecuali Sang Maha Agung, yang selalu menyelamatkan bagaimanapun kondisimu.

Contohnya saja ketika kau sangat menyukai menjadi pemain bola, lalu kau congkak dengan bolamu karena kau sudah hebat, terkenal sekampung, uangmu mulai menggunung. Mungkin saja suatu saat permainan bolamu itu yang menjerumuskan kau menjadi pemabuk, penjudi, tukang umpat, pemarah  karena kau tak mengembalikannya lagi ke Tuhan. Tuhan pemegang segala keputusan kemarin, sekarang, dan esok.  Jumawa dengan keberhasilan semumu.

Mungkin juga ketika kau tinggal di daerah yang pemimpinnya sanak saudara kau. Mau berobat mudah, bantuan selalu ada, administrasi pemerintahan jadi mudah. Tapi kau tak mau tanggung jawab ketika saudara kau ketahuan melakukan pelanggaran. Atau ketika kau susah ketika ingin mengajukan tuntutan karena ladang kau di ambil paksa. Kau akan bilang “Hukum sampah!”. Yah walaupun benar ketika itu hukum memang sampah yang cuma jadi patung di pojok ruangan ketika sidang berjalan.

Mungkin pendapatku bukanlah pendapat yang harus dituruti atau di agung-agungkan, karena ini hanya pendapat mahasiswa semester lima. Pendapatku mengatakan bahwa benar salah itu jika nurani yang menilai tidak bisa dipungkiri, ketika mata batin yang melihat tidak dapat mengelak. Maka itu dimanapun kapanpun siapapun baik jabatan umur panggilan kita perlu menajamkan pemikiran dan mengembalikan semua persoalan ke hati masih-masing, bukan setengah hati, apalagi hati yang sudah mati dipenuhi duri.

Dan yang tahu hati kita hanya kita sendiri, dan yang lebih tahu pastinya Tuhan kita. Maka perlu kiranya kita berdiskusi dengan hati nurani ini, menajamkan kembali pemikiran-pemikiran Illahi. Sehingga tak ada lagi pejabat-pejabat tambun yang korup atau setidaknya tak ada pejabat yang memikirkan dirinya sendiri, egois. Tak ada pengusaha yang rakus menebang hutan, mengebor tanah demi secuil emas dan mengorbankan seluruh pulau menjadi kering kerontang, bahkan seluruh dunia pengap kesulitan bernafas.

Patut kiranya kita memperhitungkan untuk kembali ke surau-surau kecil masa lampau. Dimana kita selalu mendengarkan, memikirkan, dan mematuhi secara takzim kalam-kalam Illahi yang di kabarkan guru-guru kita yang penuh kehormatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s