Berjalan menuju kedewasaan

Dewasa. Seberapa dewasa sih kita? tak ada yang pernah tahu, karena memang abstrak dan tak bisa diukur secara pasti. Mungkin cuma beberapa hal saja yang membedakan seperti si dewasa bertindak dengan pintar walau tak selalu, dan tak dewasa bertindak dengan tak pintar.

Iya hanya sebatas itu saja. Jika ingin mengukur tingkat kedewasaan satu orang dengan orang lain memang akan sulit, dan memang tak perlu.

Menurutku yang seumur 21 ini walaupun banyak yang bilang dewasa itu bukan tentang umur, memang benarnya karena dewasa itu tentang cara berfikir dan bertindak bukan tentang kuantitas umur. Namun umur tentulah memegang peranan yang besar dalam hal ini. Misalkan saja seorang anak seumuran SD dihadapkan dengan uang satu juta dengan orang seumuran bapak kita, beda kan? kita saja menyebutnya sudah beda, satu anak, satu orang.

Dan sepertinya kedewasaan itu bergerak lurus seiring dengan pengalaman. Nah ini baru kuantitas umur tak berpaut. Tapi kuantitas/bobot umur itulah yang penting. Contohnya temen2 saya nih selepas dari SMA. Ada yang kuliah, kerja, menikah, nganggur, dan kegiatan lainnya. Dan kita berawal dari anak lugu yang sama sewaktu SMA. Selepas 3 tahun ini berbeda sekali perubahannya. Tentu berpengaruh dengan kedewasaannya. Seorang traveller dengan seorang web surfer pun akan sangat berbeda kedewasaannya, padahal hal yang dipelajari sama. Tentang wisata.

Dewasa itu bisa pilihan, bisa keharusan.

Tapi yang pasti dewasa itu sebuah perjalanan. Bukan kerja instan.

 

Advertisements

Klan Kumis

Jum’at 11 Januari 2013, Delapan hari sudah blog ini mengudara. Iseng-iseng ngecek di google eh masih numpang di page dua ternyata. Maka dari itu kenapa saya hari ini blogging, hihihi.

Eh kabar-kabar kita punya menteri baru ya? Menpora baru. Dan kabarnya lagi yang katanya ahli IT eReS yang jadi Menpora, bener gak sih?

Jadi sedikit ilfill deh, kenapa gak yang lainnya saja yang lebih berkompeten dan lebih memahami di bidang itu?

Dan ini membuktikan kembali klan kumis mulai bergerilya mengakar, menggurita menguasai bumi Indonesia. Akankah klan kumis meneruskan perjuangannya? Kemanakah klan yang lain?

Haha kenapa saya bicara tantang klan kumis? ini candaan temen2 di UB tentang berbagai kesulitan yang dialami dalam ber’kuliah’. Ya dan lagi-lagi kami protes dan sedikit curiga dengan orang-orang berkumis seperti Rektor kami saat ini. Selain itu penggemar kumis di daerah Malang pun tak luput dari pandangan, ya pimpinan kota Malang yang banyak isu menyebutnya KKN, serta entah kejanggalan lainnya. Dan Mulai saat itu kami mulia mengindikasikan pejabat dengan kumis. Bagaimanakah kerjanya? Bagaimanakah sikapnya, dll.

 

Dan kini setelah kumis pertama dikerok di kemenpora, muncul kumis yang lain. Ya mungkin memang itu kodrat dari kumis. Semoga kumis-kumis ini bisa merubah Indonesia menjadi lebih baik. Aamiin.

Image

Baliklah ke suraumu nak

“Baliklah kesuraumu nak, bersama menikmati kalam Illahi penyejuk hati.”

Terkadang apa yang kau agung-agungkan, apa yang kau elu-elukan, apa yang kau jagokan suatu saat bisa melawan balik dan menjadi musuh terbesarmu. Kecuali Sang Maha Agung, yang selalu menyelamatkan bagaimanapun kondisimu.

Contohnya saja ketika kau sangat menyukai menjadi pemain bola, lalu kau congkak dengan bolamu karena kau sudah hebat, terkenal sekampung, uangmu mulai menggunung. Mungkin saja suatu saat permainan bolamu itu yang menjerumuskan kau menjadi pemabuk, penjudi, tukang umpat, pemarah  karena kau tak mengembalikannya lagi ke Tuhan. Tuhan pemegang segala keputusan kemarin, sekarang, dan esok.  Jumawa dengan keberhasilan semumu.

Mungkin juga ketika kau tinggal di daerah yang pemimpinnya sanak saudara kau. Mau berobat mudah, bantuan selalu ada, administrasi pemerintahan jadi mudah. Tapi kau tak mau tanggung jawab ketika saudara kau ketahuan melakukan pelanggaran. Atau ketika kau susah ketika ingin mengajukan tuntutan karena ladang kau di ambil paksa. Kau akan bilang “Hukum sampah!”. Yah walaupun benar ketika itu hukum memang sampah yang cuma jadi patung di pojok ruangan ketika sidang berjalan.

Mungkin pendapatku bukanlah pendapat yang harus dituruti atau di agung-agungkan, karena ini hanya pendapat mahasiswa semester lima. Pendapatku mengatakan bahwa benar salah itu jika nurani yang menilai tidak bisa dipungkiri, ketika mata batin yang melihat tidak dapat mengelak. Maka itu dimanapun kapanpun siapapun baik jabatan umur panggilan kita perlu menajamkan pemikiran dan mengembalikan semua persoalan ke hati masih-masing, bukan setengah hati, apalagi hati yang sudah mati dipenuhi duri.

Dan yang tahu hati kita hanya kita sendiri, dan yang lebih tahu pastinya Tuhan kita. Maka perlu kiranya kita berdiskusi dengan hati nurani ini, menajamkan kembali pemikiran-pemikiran Illahi. Sehingga tak ada lagi pejabat-pejabat tambun yang korup atau setidaknya tak ada pejabat yang memikirkan dirinya sendiri, egois. Tak ada pengusaha yang rakus menebang hutan, mengebor tanah demi secuil emas dan mengorbankan seluruh pulau menjadi kering kerontang, bahkan seluruh dunia pengap kesulitan bernafas.

Patut kiranya kita memperhitungkan untuk kembali ke surau-surau kecil masa lampau. Dimana kita selalu mendengarkan, memikirkan, dan mematuhi secara takzim kalam-kalam Illahi yang di kabarkan guru-guru kita yang penuh kehormatan.

Berhala kami

Berhala itu
Melotot tajam menyuruh kami duduk

Berhala itu
Menangis tersedu-sedu mengharap kami tak meninggalkannya lagi

Berhala itu
Marah kami tinggal barang sedetik

Berhala itu
Cemburu melihat punggung kami
Bercumbu ria dengan tuhan yang lain

Berhala itu
Kini mengungkung kami
Menyuruh kami diam patuh mendengarkan hingga larut
Kadang pula menyuruh kami tak tidur menemaninya
Sering menyuruh kami meninggalkan yang lain

Layar kotak kecil
Penyedia berbagai hiburan
Kini jadi berhala kami

Kumpulan Inspirasi [status fb]

Ku bahagia tanpa sayap tanpa gemerlap. Tertunduk kerdil penuh harap. Mengharap hingga bintang hinggap. Tanpa tahu kapan itu akan melengkap. Namun aku tahu itu sedap. (3 Januari 2013)

Hujan sore turun, mencumbui tanah lapar, menyalami daun haus. Memang tak akan pernah terlupa kasih kekasih ini. Namun disetiap pertemuan kekasih ini pastilah terawali gelap angkasa, menandakan hujan kan datang. Maka dari itu. . .
“Gek entasono memeanmu, selak kudanan.” XD (2 Januari 2013)

Sungguh biru album itu, penuh dengan bisu dan kelu, namun tak sekalipun mengetuk pintu. Mungkin itu hantu ibu, hantu yang membawa kenangan masa silam, membawa sejumput rindu yang tak bisa berpadu. Selaksa rindu penuh haru.
Sungguh ibu, rinduku akan berpadu. Menyingsih pilu meluapkan syahdu. Di hari itu, aku akan datang menuntaskan rindu yang tak pernah menyatu. Ibu. (31 Desember 2012)

Mihrab membiru, dingin, sepi. Lama tak bersanding hangat tetes tiap butirnya. Kini masih dingin membeku, juga membisu. (27 Desember 2012)

Aku yakin akan resahku
Aku pasti dalam bingungku
ialah resapan-resapan air
tak tahu apa isinya

Suatu hari nanti
suatu saat nanti
Kokoh, penuh rimbun
Peneduh keramaian
Benteng keributan.
Penyatu.

Namun masih menunggu
Belum sadar.
Tapi yakin. (27 Desember 2012)

Perut itu, tak pernah mengutuk Tuhan. Dia hanya bertanya itukah takdirnya? Menjadi tak serasi dengan tubuhnya. (25 Desember 2012)

“Saya suka Qur’an.”
“Really?”
“Ya, karena saya juga suka sama yang megang Qur’an.”
“Plaaaak!!!” (21 Desember 2012)

Perempuan itu. Anggun bermahkotakan jilbab. Sejuk dalam kilatan pandang. Senyumnya tak ada yang mengganggu. Ini ukuran. Sesat. Cacat. Jilbabnya penuh ulat, penuh maksiat. Ulat mempunyai sarang sekarang, jilbab. Jilbab. Habis, habis tergerogoti. (13 Desember 2012)

Tangan yang mungil berbanding baktinya. Badan yang ringkih menopang harinya. Mata yang sayup-sayup, menjadi saksi matahari rembulan. Peri kecilku, peri kecil raga mungil, namun emas. (13 Desember 2012)

Tangis. aku sekarang lupa tentang gelap, tentang desir manis tanpa tanding. Terang merajai, menguasai singgasana. Tekat. Besok, kukutuk raja itu jika masih terang. Besok. Lusa. Lusa kembali. Gelap harus merajai, menguasai singgasana, mengakar. (13 Desember 2012)

Tengadah, diam, terbang. Setiap sepoinya membawa entah kemana. Keringnya bibir menandaimu kokoh disana, tak bergeming. Mulai kau angkat tipis bibirmu, manis. Terangkat pula hatimu, terbang. Hingga ujung saling menakdirkan, desir tak terbantahkan lagi, kali ini nyata. Bersama kau rekam selaksa memori di hamparan luas itu, Tokyo.
Tokyo Tower, suatu hari nanti.(13 Desember 2012)

Kampung damai, kampung damai
bayangmu bagai permadani permai
menyelinap di setiap sepi ramai

oh kampung damai, kampung damai
ingin segera kusemai
cinta yang telah lama menggunung mamai. (7 Desember 2012)

Debat, saling babat, tak peduli tempat, yang penting mantap, kalau perlu saling bekap, buka semua supaya tersingkap, membabat dengan lahap, sampai ada yang terjerembap.
Oh debat. (6 Desember 2012)

Ah terkadang putih itu menjadi golongan utama, tak perlu terpesona cantik wajah pink, semangat membara merah, ataupun kalem hijau.Karena dia tak melihat ruh warna yang membentuk pelangi, hanya sesosok warna monoton, yang memang tak perlu di tonton.
Sehingga cukuplah dia dengan putihnya memberi kesucian setiap insan, putihnya menjadi pembersih supaya jernih.
#golput (6 Desember 2012)

Umi, ingin aku memanggilnya sekali dengan nada merdu itu. Namun naskah menuliskannya dengan nada kesahajaan itu ibu, dan aku bahagia.
Umi tercinta, ibu terkasih. (5 Desember 2012)

[Kripik 45] Penghayal atau Visioner

Kalau sudah bermimpi, tinggal menjalani. Bukan terus-terus berlamaan dengan mimpi. 🙂

Motivasi Hidup,Motivasi DIRI,Inspirasi Hidup,KATA MUTIARA,HIDUP SEHAT

Dodi, Dodo, dan Didi adalah mahasiswa yang berbagi kamar kost. Suatu malam minggu mereka bertiga bersantai di kamar mereka.

“Sob…Aku ingin sekolah di Paris…Pasti asyik sekolah di sana…” Dodi mencurahkan isi pikirannya setelah membaca majalah yang mengulas negara Perancis.

“Kalau aku ingin tinggal di Eropa. Bisa merasakan salju, nonton bola langsung. Keren deh….” Dodo menyahut sambil menerawang.

“Ah kalian berdua ini menghayal aja kerjaannya. Hadapi aja kenyataan. Jangan panjang angan-angan..!” Didi menentang ucapan teman-temannya.

“Emangnya kamu gak punya cita-cita Di?” Dodo bertanya penasaran.

“Aku ini realistis. Jalani aja apa yang ada…” Jawab Didi.

“Bukan panjang angan-angan Di…Manusia hidup harus punya tujuan yang jelas, tidak asal hidup. Beda lho Di antara realistis dengan malas berubah…” Dodi membantah.

Perdebatan kemudian berlanjut sampai mereka mengantuk dan tertidur.

Keesokan harinya saat Dodo dan Didi terbangun Dodi sudah tidak ada di kamar. Karena libur mereka berdua bermalas-malasan bermain Playstation. Menjelang siang Dodi datang.

“Dari mana…

View original post 138 more words

Rileks rileks

Salahkah dengan canda? Salahkah dengan tawa? Kenapa ketika ku urai bahan-bahan tawa ini selalu berbalas kesal? Sering malah berbalas serius. “Ini kenapa sih? niat bantu atau tidak? bercanda mulu“, mungkin itu sebagian intrepretasiku melihat wajah-wajah itu? Ataukah memang candaanku salah? atau kondisi tak tepat? Ah entahlah.

Aku memang sering sekali bercanda di sela-sela rapat, ngobrol, ato apalah. Ya cuman buat melelhkan suasana saja. Tak ada yang lain. Ya masa ngobrol dari pagi sampai siang cuma adu otot terus, serius terus. Awas putus tuh entar otot-otot.

Selamat menghibur diri semua, kalau ada yang marah candain aja biar gak marah, kalau tambah marah candain teruus. 😀
Awas resiko ditanggung penumpang. 😀